Kamis, 02 Oktober 2014

refleksi perkuliahan filsafat ilmu prof.Dr. Marsigit, MA jumat 26 sept 2014



“tindakanku tidak mampu memenuhi semua tulisanku, tulisanku tidak mampu memenuhi semua kata-kataku, kata-kataku tidak mampu memenuhi semua pukiranku, pikiranku tidak mampu memenuhi semua perasaanku/hatiku/spiritual”
Maksud dari tulisan diatas yaitu semua ada alurnya, kenapa spiritual kok ada di paling terakhir?(atau kalau kita menggambarkannya dalam bentuk grafik perasaan/hati/spiritual berada paling atas). Karena spiritual juga tidak hanya ada dalam pikiran. Seperti halnya saat kita mempercayai Allah SWT tidak hanya ada dalam pikiran kita tapi kita juga harus meyakini dalam hati kita. Karena jika kita menjadikan keyakinan hanya di didimensi pikiran, kita berarti memikirkan wujud Allah dengan pikiran kita, padahal kita tidak bisa memikirkan Allah atau memikirkan wujud Allah dengan pikiran kita. Jika kita mewujudkan Allah berarti sama halnya kita musyrik dengan menyembah selain Allah. Kita hanya perlu meyakini Allah lewat tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Perasaan/hati/spiritual itu bersifat multi dimensi,tidak hanya 3 dimensi. Jadi sifatnya lebih luas dari pikiran kita yang hanya 3 dimensi. Akan tetapi pikiran itu parallel. Jadi dimana kita berada kita bisa memikirkan sekitar kita tapi juga bisa memikirkan beberapa hal yang ada di luar sekitar kita. Akan tetapi apa yang ada dipikiran kita, kita tidak bisa mengutarakan dengan kata-kata sekaligus. Jadi kata-kataku tidak bisa memenuhi pikiranku. Jadi karena kata-kata itu bersifat seri, kita memiliki keterbatasan dalam berkata-kata. Tidak bisa kita mengutarakan apa yang ada di dalam pikiran kita sekaligus. Contohnya ketika kita sedang berada dalam suatu kelas, kemudian anak-anak mengutarakan pertanyaan, kita bisa menangkap semua itu dan kita sudah memikirkan jawabannya sekaligus dalam pikiran kita akan tetapi kita tidak bisa mengeluarkan apa yang ada dipikiran kita sekaligus dengan kata-kata. Kita pasti akan menjawab pertanyaan anak-anak yang ada didalam kelas itu satu per satu. Coba bayangkan apabila kita menjawab hal yang berbeda secara bersama-sama dengan hanya satu kata, anak-anak tidk akan mengerti dengan apa yang kita utarakan, malahan mereka akan berfikir kita sedang mengigo atau bahkan mereka beranggapan kita gila. Akan tetapi keterbatasan itu membuat kita lebih berarti/bermakna, jadi apa yang kita katakana akan lebih bisa dimengerti. Atau kita bisa menilai seseorang dari keterbatasan kata-katanya. Jadi Allah memberikan segala sesuatu itu pasti ada alasannya. Sebagai manusia yang bertaqwa kita hendaknya mensyukuri atas apa yang telah diberikan Allah kepada kita, apapun itu. Karena semua pasti ada maksud dan tujuannya.
Demikianlah refleksi yang dapat saya ambil dari pembelajaran filsafat ilmu oleh Bpk. Marsigit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar