“tindakanku tidak mampu memenuhi semua tulisanku, tulisanku tidak mampu
memenuhi semua kata-kataku, kata-kataku tidak mampu memenuhi semua pukiranku,
pikiranku tidak mampu memenuhi semua perasaanku/hatiku/spiritual”
Maksud dari tulisan diatas yaitu semua ada alurnya, kenapa spiritual kok
ada di paling terakhir?(atau kalau kita menggambarkannya dalam
bentuk grafik perasaan/hati/spiritual berada paling atas). Karena spiritual juga tidak hanya ada dalam pikiran.
Seperti halnya saat kita mempercayai Allah SWT tidak hanya ada dalam pikiran
kita tapi kita juga harus meyakini dalam hati
kita. Karena jika kita menjadikan keyakinan hanya di didimensi pikiran,
kita berarti memikirkan wujud Allah dengan pikiran kita, padahal kita tidak
bisa memikirkan Allah atau memikirkan wujud Allah dengan pikiran kita.
Jika kita mewujudkan Allah berarti sama halnya kita musyrik dengan menyembah
selain Allah. Kita hanya perlu meyakini Allah lewat tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Perasaan/hati/spiritual itu bersifat multi dimensi,tidak hanya 3 dimensi.
Jadi sifatnya lebih luas dari pikiran kita yang hanya 3 dimensi. Akan tetapi
pikiran itu parallel. Jadi dimana kita berada kita bisa memikirkan sekitar kita
tapi juga bisa memikirkan beberapa hal yang ada di luar
sekitar kita. Akan tetapi apa yang
ada dipikiran kita, kita tidak bisa mengutarakan dengan kata-kata sekaligus.
Jadi kata-kataku tidak bisa memenuhi pikiranku. Jadi karena kata-kata itu
bersifat seri, kita
memiliki keterbatasan dalam berkata-kata. Tidak bisa kita mengutarakan apa yang
ada di dalam pikiran kita sekaligus. Contohnya ketika kita sedang berada
dalam suatu kelas, kemudian anak-anak mengutarakan pertanyaan, kita bisa
menangkap semua itu dan kita sudah memikirkan jawabannya sekaligus dalam
pikiran kita akan tetapi kita tidak bisa mengeluarkan apa yang ada dipikiran
kita sekaligus dengan kata-kata. Kita pasti akan menjawab pertanyaan anak-anak
yang ada didalam kelas itu satu per satu. Coba
bayangkan apabila kita menjawab hal yang berbeda secara bersama-sama dengan
hanya satu kata, anak-anak tidk akan mengerti dengan apa yang kita utarakan,
malahan mereka akan berfikir kita sedang mengigo atau bahkan mereka beranggapan
kita gila. Akan tetapi
keterbatasan itu membuat kita lebih berarti/bermakna, jadi apa yang
kita katakana akan lebih bisa dimengerti. Atau kita bisa menilai seseorang dari keterbatasan
kata-katanya. Jadi
Allah memberikan segala sesuatu itu pasti ada alasannya. Sebagai manusia yang
bertaqwa kita hendaknya mensyukuri atas apa yang telah diberikan Allah kepada
kita, apapun itu. Karena semua pasti ada maksud dan tujuannya.
Demikianlah refleksi
yang dapat saya ambil dari pembelajaran filsafat ilmu oleh Bpk. Marsigit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar